Berita Terkait

Kamis, 22 Januari 2026

Di Davos, Transformasi Kesehatan RI Menjadi Contoh

Davos, 22 Januari 2026—Indonesia menegaskan arah kebijakan transformasi sistem kesehatannya di forum global World Economic Forum (WEF) Annual Meeting 2026, dengan mendorong pendekatan yang melampaui respons krisis dan berfokus pada pembangunan sistem kesehatan yang tangguh, inklusif, dan berkelanjutan. Arah tersebut mengemuka dalam sesi diskusi “Transforming Health Systems: Building Resilient, Inclusive Care Models for Emerging Markets” di Indonesia Pavilion, Kamis (22/1).

Sesi ini membahas tantangan struktural yang dihadapi banyak negara berkembang mulai dari perubahan demografi, tekanan pembiayaan, hingga kesenjangan akses layanan serta kebutuhan akan model sistem kesehatan yang tidak hanya mampu merespons krisis, tetapi juga dirancang untuk berfungsi secara berkelanjutan dalam jangka panjang melalui kolaborasi lintas sektor dan lintas negara.


Dalam diskusi tersebut, Masao Takahashi, Head, New Investors (Resource Mobilization, Private Sector & Sovereign Engagement and Innovation), Global Alliance for Vaccines and Immunization (GAVI), menyoroti perubahan posisi Indonesia dalam ekosistem kesehatan global seiring penguatan kapasitas nasional. Masao Takahashi mengatakan “Indonesia telah menjadi salah satu negara yang berperan penting dalam konteks ini. Mulai tahun 2026, Indonesia bertransformasi dari negara penerima dukungan Gavi menjadi negara donor Gavi. Perubahan ini mencerminkan peran Indonesia yang semakin aktif dan strategis dalam upaya memperkuat sistem kesehatan, baik di tingkat nasional maupun global.”


Pergeseran peran tersebut sekaligus menegaskan bahwa penguatan sistem kesehatan di dalam negeri perlu berjalan seiring dengan kontribusi Indonesia di tingkat global. Diskusi juga menggarisbawahi bahwa transformasi sistem kesehatan di negara berkembang tidak dapat diseragamkan, mengingat perbedaan kapasitas fiskal, struktur pembiayaan, serta kebutuhan masyarakat. Karena itu, pendekatan yang kontekstual dan terintegrasi dinilai penting untuk memastikan keberlanjutan sistem sekaligus pemerataan akses layanan. Untuk menjawab tantangan tersebut, para panelis sepakat bahwa solusi tidak dapat bersifat tunggal. Transformasi sistem kesehatan memerlukan keterpaduan antara kebijakan publik yang adaptif, tata kelola pembiayaan jangka panjang, serta pemanfaatan teknologi dan data sebagai dasar pengambilan keputusan.


Dari perspektif tata kelola dan pengambilan keputusan, Marc Le Menestrel, Professor Decision Science and Ethics INSEAD, menilai bahwa negara berkembang memiliki peluang untuk membangun sistem kesehatan yang lebih tangguh dengan mengambil jalur yang berbeda dari negara maju. Marc Le Menestrel, Professor, Decision Science and Ethics, INSEAD menyatakan “Indonesia mengambil pendekatan yang berada di garis depan—menjawab tantangan sistem kesehatan tanpa mengulang kesalahan yang dialami banyak negara maju. Pendekatan ini memungkinkan negara berkembang menghindari krisis yang baru akan muncul 10 atau 15 tahun ke depan.” Pernyataan tersebut menempatkan transformasi sistem kesehatan sebagai bagian dari strategi jangka panjang, bukan sekadar respons terhadap tekanan jangka pendek.


Dalam konteks tersebut, Marc juga menyoroti peran institusi dan tata kelola pembiayaan jangka panjang dalam memastikan keberlanjutan sistem kesehatan. “Danantara memiliki peran strategis dalam membangun ekosistem di mana kapitalisme berfungsi sebagai pelayan bagi masyarakat, bukan sebaliknya. Tantangannya adalah memastikan bahwa modal diarahkan untuk memperkuat sistem dan melayani kepentingan publik dalam jangka panjang.” ujarnya. Pandangan ini menegaskan bahwa keberhasilan transformasi sistem kesehatan tidak hanya ditentukan oleh besaran investasi, tetapi juga oleh nilai dan arah pengelolaan modal itu sendiri.


Namun, keberhasilan tata kelola dan pembiayaan jangka panjang sangat ditentukan oleh kemampuan sistem dalam memanfaatkan data untuk perencanaan dan pengelolaan risiko. Sementara itu, dari perspektif pemanfaatan teknologi dan investasi, Joshua Fink, Founder and Managing Partner Luma Group, menekankan peran data dalam mengubah cara sistem kesehatan dirancang dan dijalankan. Joshua Fink berpendapat “Selama ini, banyak sistem kesehatan dibangun untuk merespons krisis. Dengan pemanfaatan data yang tepat, sistem kesehatan dapat beralih ke pendekatan yang lebih prediktif sehingga memungkinkan intervensi lebih dini dan pengelolaan risiko yang lebih baik.” Pendekatan berbasis data tersebut dipandang penting untuk membantu negara berkembang membangun sistem kesehatan yang lebih efisien, tangguh, dan berkelanjutan di tengah keterbatasan sumber daya.


Secara keseluruhan, diskusi ini menegaskan bahwa transformasi sistem kesehatan memerlukan pendekatan terintegrasi antara kebijakan publik, tata kelola pembiayaan, inovasi, dan pemanfaatan data. Bagi Indonesia, penguatan sistem kesehatan merupakan bagian dari agenda pembangunan nasional untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia sebagai fondasi menuju Indonesia Maju dan visi Indonesia Emas 2045.


Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menegaskan komitmennya untuk terus mendorong sinergi kebijakan dan kemitraan global guna menciptakan iklim investasi yang mendukung pengembangan sektor kesehatan yang inklusif, berkelanjutan, dan berdampak nyata bagi masyarakat.

 

 

Untuk keterangan lebih lanjut dapat menghubungi:

Biro Protokol dan Hubungan Masyarakat

Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM

Email: humas@bkpm.go.id


Powered by sagara 2022