Opportunities by Sector

   


As a uniquely global business country at the heart of Asia, Indonesia plays host to a wide variety of business sectors.



Sektor industri merupakan salah satu motor penggerak utama pertumbuhan perekonomian suatu negara. Pembangunan industri akan memberikan dampak besar berupa meningkatnya kemakmuran dan kesejahteraan rakyat, meningkatkan pertumbuhan ekonomi, mendorong terciptanya teknologi yang tepat guna, memperkuat daya guna masyarakat dalam proses pertumbuhan ekonomi nasional, memperluas pembukaan lahan kerja dan kesempatan berusaha serta dapat memperkuat stabilitas nasional.

Dalam pertumbuhan realisasi investasi triwulan pertama 2016, sektor industri menjadi salah satu motor utama dengan 5 (lima) sektor yang memberikan kontribusi besar dalam realisasi investasi. Sebagian besar sektor industri yang memberikan sumbangan terbesar berasal dari industri padat karya yang menjadi prioritas pemerintah bersama industri berorientasi ekspor, industri substitusi impor dan industri hilirisasi mineral.


Indonesia adalah produsen nikel terbesar ke-4 dari 5 besar negara produsen nikel dunia yang bersama-sama menyumbang lebih dari 60 persen produksi nikel dunia. Produksi nikel Indonesia mencapai 190 ribu ton per tahun. Indonesia memiliki 8% cadangan nikel dunia. Oleh karena itu, industri pertambangan dan pengolahan nikel sangat layak untuk dipercepat dan diperluas pengembangannya. Sulawesi merupakan daerah dengan produksi nikel paling maju di Indonesia. Empat lokasi penting di Sulawesi yang memiliki cadangan nikel berlimpah adalah:

• Sorowako, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan;

• Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah;

• Pomalaa, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara;

Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara.

Industri furnitur Indonesia menghadapi prospek pertumbuhan yang solid, tidak hanya dari pasar ekspor tradisional tetapi juga dari kawasan ASEAN serta pasar domestik. Indonesia telah memiliki reputasi yang baik dalam sektor furnitur dan kerajinan tangan baik di dalam maupun di luar negeri. Permintaan dunia untuk furnitur diperkirakan akan meningkat sebesar 4,2% per tahunnya dan melanjutkan pola ekspansi dengan pasar Asia sebagai mesin pertumbuhan utama. Industri furnitur Indonesia terus tumbuh seiring dengan pertumbuhan kelas menengah dan daya beli konsumen. Dengan memanfaatkan populasi angkatan muda juga tenaga kerja yang tersedia serta kualitas bahan baku dan kelestarian lingkungan dalam produksi furnitur, diharapkan ekspor industri ini akan tumbuh sebesar 20% setiap tahunnya.

Sebagai salah satu negara manufaktur tekstil terkemuka, Indonesia memiliki potensi besar dalam mengembangkan Industri Tekstil. Salah satu poin kuat industri ini adalah bisnis hulu hingga ke hilir yang berkembang dengan baik, yang memungkinkan integrasi vertikal yang ketat. Indonesia telah berhasil memosisikan diri sebagai pasar produksi alternatif untuk merek fashion global. Pemerintah telah menetapkan tujuan untuk meningkatkan nilai tekstil dan garmen ekspor menjadi USD75 miliar pada tahun 2030 dan memberikan kontribusi 5% terhadap ekspor global, meningkat dari di bawah 2% saat ini.

Pabrik tekstil, yang terutama berlokasi di Bandung, Bekasi, dan Bogor, menjadi pemasok merek terkemuka seperti Hugo Boss, Giorgio Armani, Guess, Mark and Spencer, Mango dan banyak merek terkenal lainnya. Produk ekspor merek-merek ini telah menjangkau pasar ekonomi maju seperti Jepang, Inggris, AS, dan beberapa pasar lainnya. Indonesia telah menjadi basis industri bagi perusahaan patungan asing yang memproduksi produk tekstil khusus seperti geotextile; seragam tentara, yang telah diekspor ke sekitar 30 negara, salah satunya diperuntukkan bagi tentara North Atlantic Treaty Organization (NATO); dan seragam Anti-Nuklir, yang telah diekspor ke Arab Saudi dan Malaysia.

Dengan dukungan penuh dari pemerintah, meningkatnya disposable income domestik, dan tumbuhnya permintaan pasar atas alas kaki, Indonesia menawarkan peluang investasi yang besar di industri alas kaki. Tenaga kerja yang kompetitif dan terampil telah menarik investasi dari berbagai negara, sementara lokasi industri yang strategis dan dukungan pemerintah juga telah berkontribusi terhadap pengembangan sektor ini. Lokasi strategis Indonesia di kawasan dengan pertumbuhan tinggi dan kedekatannya dengan pasar raksasa Tiongkok dan India menjadikan Indonesia sebagai pusat produksi ideal untuk merek alas kaki global seperti Nike, Adidas, Reebok, dan sepatu mode terkenal lainnya.

Secara global, total produksi baja mentah mencapai 1,621 juta ton pada tahun 2016 (naik 0,8% dari tahun sebelumnya). Adapun 50% produk tersebut berasal dari Tiongkok, selanjutnya diikuti oleh Jepang, India, Amerika Serikat, Rusia dan Korea Selatan. Dari sudut pandang ekonomi, baja merupakan logam dasar paling utama dengan global market value USD225 miliar per tahun. Total konsumsi baja mentah (crude steel) Indonesia pada tahun 2016 yaitu sebesar 14 juta ton, sedangkan total produksi dalam negeri baru mencapai 8 juta ton. Sehingga, untuk mencukupi kebutuhan dalam negeri, Indonesia harus mengimpor 6 juta ton produk baja.